Ngaben merupakan salah satu upacara yang dilakukan oleh Umat Hindu di Bali yang
tergolong upacara Pitra Yadnya (upacara yang ditunjukkan
kepada Leluhur). Beberapa pengertian dari Ngaben, sebagai berikut : 1.
Ngaben secara etimologis berasal dari kata api yang mendapat awalan nga,
dan akhiran an, sehingga menjadi ngapian, yang disandikan menjadi ngapen yang
lama kelamaan terjadi pergeseran kata menjadi ngaben. Upacara Ngaben selalu
melibatkan api, api yang digunakan ada 2, yaitu berupa api konkret (api sebenarnya)
dan api abstrak (api yang berasal dari Puja Mantra Pendeta yang memimpin
upacara). 2. Versi lain mengatakan bahwa Ngaben berasal dari kata beya yang
artinya bekal, sehingga ngaben juga berarti upacara memberi bekal kepada
Leluhur untuk perjalannya ke Sunia Loka. 3. Versi lain, Ngaben berasal
dari nge - "abu" - in. Disandikan menjadi Ngaben, merupakan upacara
pengembalian unsur tubuh kepada unsur alam.
A. Bentuk-bentuk Upacara Ngaben
1. Ngaben Sawa Wedana
Sawa Wedana adalah upacara ngaben
dengan melibatkan jenazah yang masih utuh (tanpa dikubur terlebih dahulu) .
Biasanya upacara ini dilaksanakan dalam kurun waktu 3-7 hari terhitung dari
hari meninggalnya orang tersebut. Pengecualian biasa terjadi pada upacara
dengan skala Utama, yang persiapannya bisa berlangsung hingga sebulan.
Sementara pihak keluarga mempersiapkan segala sesuatu untuk upacara maka
jenazah akan diletakkan di balai adat yang ada di masing-masing rumah dengan
pemberian ramuan tertentu untuk memperlambat pembusukan jenazah. Dewasa ini pemberian
ramuan sering digantikan dengan penggunaan formalin. Selama jenazah masih
ditaruh di balai adat, pihak keluarga masih memperlakukan jenazahnya seperti
selayaknya masih hidup, seperti membawakan kopi, memberi makan disamping
jenazah, membawakan handuk dan pakaian, dll sebab sebelum diadakan upacara yang
disebut Papegatan maka yang bersangkutan dianggap hanya tidur dan masih berada
dilingkungan keluarganya.
2. Ngaben Asti Wedana
Asti Wedana adalah upacara ngaben
yang melibatkan kerangka jenazah yang pernah dikubur. Upacara ini disertai
dengan upacara ngagah, yaitu upacara menggali kembali kuburan dari orang yang
bersangkutan untuk kemudian mengupacarai tulang belulang yang tersisa. Hal ini
dilakukan sesuai tradisi dan aturan desa setempat, misalnya ada upacara
tertentu di mana masyarakat desa tidak diperkenankan melaksanakan upacara
kematian dan upacara pernikahan maka jenazah akan dikuburkan di kuburan
setempat yang disebut dengan upacara Makingsan ring Pertiwi ( Menitipkan di Ibu
Pertiwi).
3. Swasta
Swasta adalah upacara ngaben tanpa
memperlibatkan jenazah maupun kerangka mayat, hal ini biasanya dilakukan karena
beberapa hal, seperti : meninggal di luar negeri atau tempat jauh, jenazah
tidak ditemukan, dll. Pada upacara ini jenazah biasanya disimbolkan dengan kayu
cendana (pengawak) yang dilukis dan diisi aksara magis sebagai badan kasar dari
atma orang yang bersangkutan.
4. Ngelungah
Ngelungah adalah upacara untuk anak yang belum tanggal
gigi.
5. Warak Kruron
Warak Kruron adalah upacara untuk bayi yang keguguran.
B. Tujuan Upacara Ngaben
Upacara ngaben secara konsepsional memiliki makna dan
tujuan sebagai berikut :
1. Dengan membakar jenazah maupun simbolisnya kemudian
menghanyutkan abu ke sungai, atau laut memiliki makna untuk melepaskan Sang
Atma (roh) dari belenggu keduniawian sehingga dapat dengan mudah bersatu dengan
Tuhan (Mokshatam Atmanam)
2. Membakar jenazah juga merupakan suatu rangkaian
upacara untuk mengembalikan segala unsur Panca Maha Bhuta (5 unsur pembangun
badan kasar manusia) kepada asalnya masing-masing agar tidak menghalangi
perjalan Atma ke Sunia Loka Bagian Panca Maha Bhuta yaitu : a.
Pertiwi : unsur padat yang membentuk tulang, daging, kuku, dll b. Apah:
unsur cair yang membentuk darah, air liur, air mata, dll c. Bayu : unsur
udara yang membentuk napas. d. Teja : unsur panas yang membentuk suhu
tubuh. e. Akasa : unsur ether yang membentuk rongga dalam tubuh.
3. Bagi pihak keluarga, upacara ini merupakan
simbolisasi bahwa pihak keluarga telah ikhlas, dan merelakan kepergian yang
bersangkutan.
C. Rangkaian Upacara Ngaben
Sarana Pengusungan Jenazah
1.
Ngulapin
Upacara untuk memanggil Sang Atma.
Upacara ini juga dilaksanakan apabila yang bersangkutan meninggal di luar rumah
yang bersangkutan (misalnya di Rumah Sakit, dll). Upacara ini dapat
berbeda-beda tergantung tata cara dan tradisi setempat, ada yang melaksanakan
di perempatan jalan, pertigaan jalan, dan kuburan setempat. |-
2.
Nyiramin/Ngemandusin
Upacara memandikan dan membersihkan
jenazah yang biasa dilakukan di halaman rumah keluarga yang bersangkutan
(natah). Prosesi ini juga disertai dengan pemberian simbol-simbol seperti bunga
melati di rongga hidung, belahan kaca di atas mata, daun intaran di alis, dan
perlengkapan lainnya dengan tujuan mengembalikan kembali fungsi-fungsi dari
bagian tubuh yang tidak digunakan ke asalnya, serta apabila roh mendiang
mengalami reinkarnasi kembali agar dianugerahi badan yang lengkap (tidak
cacat). |-
3.
Ngajum Kajang
Kajang adalah selembar kertas putih
yang ditulisi dengan aksara-aksara magis oleh pemangku, pendeta atau tetua adat
setempat. Setelah selesai ditulis maka para kerabat dan keturunan dari yang
bersangkutan akan melaksanakan upacara ngajum kajang dengan cara menekan kajang
itu sebanyak 3x, sebagai simbol kemantapan hati para kerabat melepas kepergian
mendiang dan menyatukan hati para kerabat sehingga mendiang dapat dengan cepat
melakukan perjalanannya ke alam selanjutnya.
4.
Ngaskara
Ngaskara bermakna penyucian roh
mendiang. Penyucian ini dilakukan dengan tujuan agar roh yang bersangkutan
dapat bersatu dengan Tuhan dan bisa menjadi pembimbing kerabatnya yang masih
hidup di dunia.
5.
Mameras
Mameras berasal dari kata peras yang
artinya berhasil, sukses, atau selesai. Upacara ini dilaksanakan apabila
mendiang sudah memiliki cucu, karena menurut keyakinan cucu tersebutlah yang
akan menuntun jalannya mendiang melalui doa dan karma baik yang mereka lakukan.
6.
Papegatan
Papegatan berasal dari kata pegat,
yang artinya putus, makna upacara ini adalah untuk memutuskan hubungan duniawi
dan cinta dari kerabat mendiang, sebab kedua hal tersebut akan menghalangi
perjalan sang roh menuju Tuhan. Dengan upacara ini pihak keluarga berarti telah
secara ikhlas melepas kepergian mendiang ke tempat yang lebih baik. Sarana dari
upacara ini adalah sesaji (banten) yang disusun pada sebuah lesung batu dan
diatasnya diisi dua cabang pohon dadap yang dibentuk seperti gawang dan
dibentangkan benang putih pada kedua cabang pohon tersebut. Nantinya benang ini
akan diterebos oleh kerabat dan pengusung jenazah sebelum keluar rumah hingga
putus.
7.
Pakiriman Ngutang
Di laksanakan setelah upacara
papegatan yang dilanjutkan dengan pakiriminan ke kuburan setempat, jenazah
beserta kajangnya kemudian dinaikan ke atas Bade/Wadah, yaitu menara pengusung
jenazah (hal ini tidak mutlak harus ada, dapat diganti dengan keranda biasa
yang disebut Pepaga). Dari rumah yang bersangkutan anggota masyarakat akan
mengusung semua perlengkapan upacara beserta jenazah diiringi oleh suara
"Baleganjur" (gong khas Bali) yang bertalu-talu dan bersemangat, atau
suara angklung yang terkesan sedih. Di perjalan menuju kuburan jenazah ini akan
diarak berputar 3x berlawanan arah jarum jam yang bermakna sebagai simbol
mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke tempatnya masing-masing. Selain itu
perputaran ini juga bermakna: Berputar 3x di depan rumah mendiang sebagai
simbol perpisahan dengan sanak keluarga. Berputar 3x di perempatan dan
pertigaan desa sebagai simbol perpisahan dengan lingkungan masyarakat. Berputar
3x di muka kuburan sebagai simbol perpisahan dengan dunia ini.
8.
Ngising
Ngising adalah upacara pembakaran
jenazah tersebut, jenazah dibaringkan di tempat yang telah disediakan ,
disertai sesaji dan banten dengan makna filosofis sendiri, kemudian diperciki
oleh pendeta yang memimpin upacara dengan Tirta Pangentas yang bertindak
sebagai api abstrak diiringi dengan Puja Mantra dari pendeta, setelah selesai
kemudian barulah jenazah dibakar hingga hangus, tulang-tulang hasil pembakaran
kemudian digilas dan dirangkai lagi dalam buah kelapa gading yang telah
dikeluarkan airnya.
9.
Nganyud
Nganyud bermakna sebagai ritual
untuk menghanyutkan segala kekotoran yang masih tertinggal dalam roh mendiang
dengan simbolisasi berupa menghanyutkan abu jenazah. Upacara ini biasanya dilaksakan
di laut, atau sungai.
10.
Makelud
Makelud biasanya dilaksanakan 12
hari setelah upacara pembakaran jenazah. Makna upacara makelud ini adalah
membersihkan dan menyucikan kembali lingkungan keluarga akibat kesedihan yang
melanda keluarga yang ditinggalkan. Filosofis 12 hari kesedihan ini diambil
dari Wiracarita Mahabharata, saat Sang Pandawa mengalami masa hukuman 12 tahun
di tengah hutan.
info yang bagus.
BalasHapusTerima kasih infonya. Semoga kita tetap bisa menjaga dan melestarikan budaya kita masing2
BalasHapusMenambah pengetahuan, trimakasih
BalasHapusWow, informasi yang sangat bermanfaat. Terima kasih informasinya
BalasHapusWow, informasi yang sangat bermanfaat. Terima kasih informasinya
BalasHapusTerimaksih infonya menambah wawasan
BalasHapusInformasinya sangat bermanfaat..terima kasih.
BalasHapusMantap. Perbanyak tulisan2 seperti ini 👍
BalasHapusMantap. Perbanyak tulisan2 seperti ini 👍
BalasHapusKalau jenazah yang dibakar dengan banyak mayat yg sudah menjadi krangka atau pun masih utuh tu dinamakan ngaben masal ya..?
BalasHapusIya kak
HapusKalau jenazah yang dibakar dengan banyak mayat yg sudah menjadi krangka atau pun masih utuh tu dinamakan ngaben masal ya..?
BalasHapusOh Budaya ya ? Berarti gak wajib iya? Terima kasih info nya.
BalasHapusWajib kk di laksanakan oleh umat hindu sebagai pelepasan roh atau atma dari ikatan duniawi dan kembali pada penciptanya.
HapusTerimakasih infonya, seama ini saya hanya mengetahui namanya saja, sekarang jadi tahu tata cara upacara ngaben. Oya kalau keluarga tidak memiliki biaya untuk upacara ngaben, apakah ada cara lain min?
BalasHapusterimakasih infonya,,,
BalasHapussetidaknya bisa menambah wawasan ttg apa itu ngaben :)
Menambah pengetahuan min. Trimakasih infonya
BalasHapusTerimakasih. Infonya menambah pengetahuan dan wawasan.
BalasHapus