Rabu, 27 Desember 2017

Tradisi Sasak



NUTU BERAS/GABAH


Sejak tahun 2013 lalu masyarakat Bayan dinobatkan sebagai salah satu suku bangsa yang bernama Suku Bayan. Memang tidak salah jika Bayan dinobatkan sebagai salah satu suku yang mendiami bumi seribu masjid karena memang Bayan memiliki budaya dan adat dan pakaian adat yang berbeda dari masyarakat Lombok/suku Sasak pada umumnya.
Indonesia memang kaya dengan dengan suku dan budaya yang tersebar di semua pulau yang ada di wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Keberagaman yang ada di masyarakat Indonesia menciptakan kebudayaan yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, yang kemudian dikenal dengan nama kebudayaan lokal dimana masyarakat menjunjung tinggi kebudayaan lokal tersebut sebagai warisan dari para leluhur.
Dalam salah satu manuskrip yang ditulis oleh Tuan Guru Najmudin Makmun menyebutkan bahwa Desa-Desa Tertua di Lombok adalah Desa Bayan sekitar 1150 Masehi baru disusul dengan Desa Selaparang 1247 M Desa Pejanggik 1272 M dan Desa Majapahit Abad ke 14. Desa-Desa tersebut kemudian menjadi Kerajaan-kerajaan di Lombok salah satunya adalah kerajaan Bayan.
Setelah istirahat beberapa saat di berugak dengan suguhan tuak aren dan makanan ringan berupa pisang dan ubi kayu kami bersama rombongan pecinta photography menyaksikan tradisi masyarakat Bayan yaitu prosesi bisok beras/menik (cuci beras). Kegiatan bisok beras/menik (cuci beras) bukan sekadar membersihkan beras sebelum dimasak, namun memiliki makna sejarah.
Sebelum dilakukannya prosesi bisok berak ini terlebih dahulu masyarakat Bayan melakukan prosesi menumbuk padi di halaman rumah dengan alat tradisional, lisung panjang dengan alu yang terbuat dari bambu. Kemudian proses selanjutnya adalah menampi atau membersihkan/memisahkan beras hasil tumbukan dari kulitnya dengan menggunakan niru (alat yang terbuat dari anyaman bambu).